Selasa, 15 Maret 2011

25. KISAH NABI MUHAMMAD SAW

KELAHIRAN NABI MUHAMMAD
Nabi Muhammad lahir pada tanggal 12 Rabi’ul awwal tahun gajah atau “Ammul Fiil”. Disebut demikian karena pada tahun itu Raja Abrahah datang ke Mekkah bersama bala tentaranya dengan menunggang kendaraan gajah hendak menghancurkan Ka’bah. Tetapi kemudian Allah menghancurkan bala tentara itu dengan burung ababil yang membawa batu kecil dari neraka.
Menurut kalender masehi maka tanggal lahir beliau adalah pada tanggal 20 april 571M.

MUHAMMAD DISUSUKAN
Ayah beliau Bernama Abdullah bin Abdul Muthalib, sedangkan sang ibu bernama Aminah. Ayahnya meninggal ketika Muhammad berada dalam kandungan berusia enam bulan.
Sesudah beliau lahir, seperti kebiasaan orang Arab pada saat itu, maka beliau disusukan kepadda wanita desa, wanita yang beruntung dapat menjadi ibu susu Nabi Muhammad adalah agar dapat berbicara bahasa Arab dengan fasih, karena bahasa pedesaan saat itu masih murni.
Beliau berada di pedesaan hingga berusia lima tahun. Sesudah itu beliau di kembalikan kepada orang tuanya di Mekkah.

KEMATIAN IBUNDANYA
Ketika beliau berumur enam tahun beliau diajak ibunya untuk berziarah ke makam ayahnya di Madinah. Sesudah itu mereka hendak pulang ke Mekkah.
Di tengah perjalanan antara Mekkah dan Madinah tepatnya di Abwa, Aminah jatuh sakit dan meninggal dunia. Denga demikian Muhammad menjadi yatim piatu sejak berusia enam tahun.

SANG KAKEK PUN MENINGGAL DUNIA
Selanjutnya beliau diasuh oleh kakeknya yang bernama Abdul Muthalib. Abdul Muthalib adalah seorang tokoh pemuka quuraisy yang cukup disegani masyarakat Mekkah. Namun beliau hanya dua tahun saja dalam asuhan sang kakek. Ketika beliau berusia delapan tahun sang kakek meninggal dunia.

DALAM ASUHAN ABU THALIB
Kini beliau diasuh oleh pamannya yaitu Abu Thalib. Kasih sayang Abu Thalib kepada Muhammad pun tidak kurang bagaikan ayah kandung sendiri. Bahkan dirasa lebih besar dari anak-anaknya sendiri. Hal ini disebabkan Muhammad memiliki sifat-sifat yang baik dan terpuji. Abu Thalib bukanlah termasuk orang kaya, sehingga dalam asuhan Abu Thalib Muhammad mengembalakan kambing untuk menambah pengasilan keluarga.

PERGI KE SYAM BERSAMA PAMAN UTUK BERDAGANG
Pada usia 12 tahun Muhammad diajak pamannya ke Syam untuk berdagang. Sesampainya di Busyra mereka bertemu seorang pendeta Nashrani yang bernama Buhaira. Pendeta tesebut menasihati Abu Thalib agar segera membawa keponakannya kembali ke Mekkah, sebab ia khawatir orang-orang Yahudi akan membunuh Muhammad. Karena jelas sekali pada diri Muhammad terdapat tanda-tanda kenabian.

BEKERJA PADA KHADIJAH
Sepulangnya dari Syamm Muhammad kembali menggembalakan kambing. Ketika berusia 15 tahun ia sempat menyaksikan perang fijar yakni peperangan antara suku Quraisy yang mempertahankan kesucian kota Mekkah dari ancaman suku Quraisy.
Sesudah dewasa ia bekerjasama dengan seorang janda yang bernama Khadijah. Muhammad membawa dagangan Khadijah ke Syam. Dalam perjalanan ke Syam ia selalu diiringi oleh pembantu Khadijah yang bernama Maysaroh.
Pulang dari negeri Syam dia membawa keuntungan yang cukup besar. Karena kejujurannya itu Khadijah tertarik dan ingin mengawini Muhammad.

PERKAWINAN DENGAN KHADIJAH
Beberapa hari setelah pulang dari negeri Syam, Abu Thalib menerima lamaran dari Khadijah bahwa Khadijah ingin menikah dengan Muhammad. Abu Thalib sendiri tak keberatan dan berlangsunglah perkawinan itu. Saat itu Muhammad berusia 25 tahun sedangkan Khadijah berusia 40 tahun.

MENDAMAIKAN PEMUKA-PEMUKA QURAISY
Pada suatu ketika terjadilah banjir yang melanda Mekkah sehingga Ka’bah yang mereka hormati rusak. Para pemuka Quraisy sepakat memperbaikinya.
Suatu hendak meletakan Hajar Aswad pada tempatnya, terjadilah perselisihan. Masing-masing merasa berhak untuk meletakan batu itu. Masing-masing kepala suku berebut.
Perselisihan meruncing, hamper saja terjadi pertumpahan darah. Pada saat itulah Muhammad tampil ke muka dengan mengajukan usul menarik.
Muhammad meminta sehelai kain untuk dihamparkan. Lalu Hajar Aswad diletakan di tenga-tengah kain. Kemudian masing-masing kepala suku diminta memegang bagian tepi kain kemudian diangkat bersama-sama. Ketika hendak meletakan Hajar Aswad, Muhammadlah yang melakukannya. Dengan demikianlah puaslah semua pihak. Nama Muhammad semakin terkenal sejak peristiwa itu.

DIBERI GELAR AL-AMIN
Sejak kecil, kanak-kanak hingga dewasa beliau telah dikenal sebagai orang yang jujur, tidak pernah berkata kotor, tidak pernah berbohong dan tidak pernah berbuat ma’syiat.
Karena kejujurannya dalam berkata dan bersikap itulah kemudian Muhammad diberi gelar Al-Amin yang artinya orang yang dapat dipercaya.
Ia juga tidak pernah menyembah berhala, juga tidak pernah memakan daging yang disembelih untuk korban berhala.

WAHYU PERTAMA TURUN
Pada usia 40 tahun Muhammad suka menyendiri bertahanus di gua Hira’. Beliau ingin mendekatkan diri kepada Allah.
Tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan datanglah malaikat Jibril membawa wahyu pertama.
Mula-mula Muhammad ketakutan dan gemetaran melihat kedatangan JIbril. Kemudian Jibril merangkulnya. Beliau semakin ketakutan, tubuhnya menggigil. Setelah dilepas, malaikat Jibril berkata :
“Bacalah !”.
“Aku tidak bisa membaca,” jawab Muhammad.
Jawaban itu diulanginya hingga tiga kali. Akhirnya ia berkata kepada Jibril : “Apa yang kubaca ?”.
Kemudian Jibril membacakan surah Al-‘Alaq ayat satu sampai ayat lima.
Sesudah itu ia pulang dengan tubuh gemetar. Beliau disambut oleh Khadijah yang sangat setia dan memperhatikannya. Beliau di selimuti oleh Khadijah dan dihiburnya dengan kata yang menentramkan jiwa.
Lalu Kahdijah pergi kerumah anak pamannya yang bernama Waraqah bin Naufal unutk berkonsultasi. Waraqah memberitahukan bahwa yang datang kepada Muhammad adalah malaikat Jibril yang pernah datang juga pada Nabi Musa. Jadi Muhammad akan diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul.

WAHYU KEDUA
Sesudah wahyu yang pertama, selama dua setengah tahun beliau tidak menerima wahyu lagi. Beliau khawatir akan terputus, maka ia pergi ke gua Hira’ lagi.
Ketika ia menengadahkan wajahnya ke langit tampaklah malaikat Jibril. Beliau ketakutan dan segera pulang ke rumah. Beliau meminta kepada Khadijah agar diselimuti. Dalam keadaan berselimut itu, datanglah malaikat Jibril menyampaikan wahyu kedua yang artinya :
“Hai orang yang berselimut ! Bangunlah dan berilah peringatan. Besrkanlah Nama Tuhanmu, Bersihkanlah pakaianmu, jauhilah perbuatan ma’syiat, janganlah kamu memberi karena hendak memperoleh yang lebih banyak. Dan hendaklah kamu bersabar untuk memenuhi perintah Tuhanmu. (QS. Al-Mudatstsir : 1-7).
Dengan demikian jelaslah sudah, bahwa Muhammad diperintahkan menyampaikan risalah –Nya yaitu mengajak manusia menyembah Allah Maha Esa.

DAKWAH SECARA SEMBUNYI-SEMBUNYI
Setelah beliau menerima wahyu untuk berdakwah, maka yang pertama beliau lakukan adalah berdakwah secara sembunyi-sembunyi kepada keluarga, teman dan orang-orang dekatnya. Yang pertama kali beliau ajak adalah istri beliau sendiri, Khadijah. Kedua adalah Ali bin Abi Thalib lalu Zaid nim Haritsah. Sesudah itu beliau mengajak teman akrabnya yang berasal dari golongan orang tua yakni Abu Bakar ash Shiddiq.
Setelah Abu Bakar masuk islam, maka banyaklah orang-orang yang mengikutinya antara lain : Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqash, Abdur Rahman bin ‘Auf, Thalhah bin Uabaidillah, Abu Ubaidah bin Jarrah, Arqam bin Abil Arqam, Fatimah bin Khattab. Mereka inilah yang dikenal sebagai golongan yang pertama kali masukI Islam atau “Assabiqunal Awwalun”.
Mereka biasa mendapatkan pelajaran tentang Islam di rumah Arqam bin Abil Arqam.

BERDAKWAH SECARA TERANG-TERANGAN
Selama tiga tahun lamanya, Rasulullah berdakwah secara sembunyi-sembunyi, kini datanglah perintah untuk berdakwah secara terang-terangan.
Namun sebagaimana Nabi-nabi sebelum beliau, ajakannya ditolak oleh sebagian besar kaumnya. Hanya sedikit yang mula-mula menerima ajakan beliau.
Walaupun demikian beliau terus bersabar dan tetap melakukan dakwah dengan bijaksana. Orang-orang kafir mulai jengkel. Mereka meminta Abu Thalib untuk menyuruh beliau menghentikan dakwahnya. Tetapi hal itu dijawab oleh beliau : “Demi Allah wahai paman, jika sekiranya mereka mampu meletakan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku dengan maksud agar aku menghentikan pekerjaan ini (dakwah) sehingga agama ini tersiar keseluruh permukaan bumi atau aku akan binasa karenanya, namun aku tidak akan menghentikannya”.
Mendengar tekad keponakannya yang membaja ini, Abu Thalib berkata : “Pergilah dan katakanlah apa yang kamu kehendaki, demi Allah aku tidak akan menyerahkan kamu karena suatu alasan apapun selamanya.”

PENGANIAYAAN TERHADAP RASULULLAH DAN PENGIKUTNYA
Melihat Rasulullah masih tetap menjalankan dakwahnya dan terus menghina sesembahan mereka berupa patung tersebut,orang-orang kafir mulai gatal. Terlebih setelah mereka amati makin banyak saja orang yang masuk islam dan mengikuti ajakan Muhammad, maka mereka mulai menganiya beliau.
Misalnya, ketika beliau sedang shalat dan bersujud di Masjidil Haram, tiba-tiba Abu Jahal datang sambil mengangkat batu besar dan hendak ditimpahkan kepada beliau. Mendadak tubuh Abu Jahal gemetar dan pucat pasi karena ketakutan.
Beliau juga pernah dilempari kotoran unta diatas kuduk beliau. Dan ketika pulang dari masjid beliau ditaburi debu dan pasir pada wajah beliau.
Yang keterlaluan adalah ulah Uqbal bin Abi mu’ith, ketika beliau Shalat di Masjidil Haram tiba-tiba orang kafir itu menjerat leher beliau dengan dengan selendang yang beliau pakai sehingga beliau tidak berdaya untuk melepaskannya.
Unutunglah saat itu datang Abu Bakar dan langsung memitiing dan menghempaskan dia dari Rasulullah.
Beberapa pengikut beliau yang juga mendapat perlakuan kejam antara lain adalah Bilal bin Rabah, yaitu seorang budak milik Umayah bin Khalf. Bilal ditelentangkan diatas pasir di bawah terik Matahari dan dadanya ditindih dengan batu besar. Ia dipaksa meninggalkan Islam namun ia tetap teguh dan imannya bertambah tebal.
Bilal akhirnya dibebaskan oleh Abu Bakar setelah ditebus dengan harga yang cukup mahal.
Sahabat Rasulullah yang lain yang disisksa diluar batas kemanusiaan adalah Amar bin Yasir beserta kedua orang tuanya. Mereka disiksa pada waktu dzuhur yaitu pada matahari sedang terik diatas kepala. Ketika Muhammad lewat beliau menghibur mereka : “Bersabarlah hai keluarga Yasir karena sesungguhnya yang telah dijanjikan kepada kalian adalah Surga.”
Sahabat Habab bin Arats juga disiksa lebuh kejam lagi. Ia dutusuk-tusuk dengan besi panas pada punggungnya agar meninggalkan islam, tetapi ia masih tetap tabah dan memilih islam sebagai agamanya.

HIJRAH KE ETHIOPIA
Keganasan kaum kafir makin merajalela. Pengikut Rasulullah yang berasal dari kaum lemah semakin banyak jumlahnya. Malaikat penderitaan mereka , Rasulullah tidak sampai hati. Akhirnya beliau memerintahkann mereka untuk hijrah ke Ethiopia.
Raja Habsyah di Ethiopia ternyata mau menerima mereka dengan senang hati. Mereka mendapatka perlindungan sepenuhnya. Rombongan pertama terdiri dari 10 laki-laki dan 4 wanita. Rombongan kedua berjumlah 100 orang, diantaranya adalah Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam dan lain-lain.
Rasulullah tetap berada di Mekkah. Pada waktu masuklah seorang pembesar Quraisy yang amat ditakuti yaitu Ummar bin Khattab. Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah juga masuk islam. Dengan masuk islamnya dua orang panglima yang perkasa itu, pihak kafir Quraisy semakin khawatir akan merosotnya kedudukan mereka. Sedangkan pengikut Rasulullah semakin banyak.

EMBARGO TERHADAP BANI HASYIM DAN BANI MUTHALIB
Dengan berbagai cara kaum Quraisy tidak berdaya untuk mematahkan gerakan islam, maka cara terakhir yang mereka lancarkan adalah mengadakan pemboikotan atau embargo terhadap kaum Bani Hasyim dan Bani Muthalib sebab dua keluarga itulah yang senantiasa membela dan melindungi Rasulullah.
Pemboikotan itu dengan jalan memutuskan segala macam hubungan dengan mereka baik itu hubungan dagang, hubungan perkkawinan dan ziarah menziarahi.
Dengan adanya embargo ini terpaksa Rasulullah dan para pengikutnya keluar kota Mekkah. Dua tahun lamanya mereka hidup dalam kekurangan dan kemiskinan. Sebenarnya banyak juga yang kaum Quraisy merasa iba dan kasihan melihat penderitaan Rasulullah dan para sahabatnya. Diam-diam mereka mengirim bahan makanan dan pakaian pada malam hari. Lama kelamaan bangkitlah beberapa tokoh Quraisy untuk menghentikan pemboikotan itu. Mereka merobek-robek perjanjian yang berisi dinsing Ka’bah. Dengan demikian keadaan kembali seperti sedia kala. Rasulullah dan para pengikutnya kembali masuk ke kota Mekkah. Namunn keadaan mereka tidak bertambah baik, kaum kafir makin giat melakukan penyiksaan dan penganiayaan.

TAHUN DUKA CITA BAGI RASULULLAH
Hampir sepuluh tahun sudah islam tumbuh di kota Mekkah. Baru saja kaum muslimin terlepas dari penderitaan akibat pemboikotan yang dilakukan kaum kafir Quraisy. Kini datang lagi cobaan yang berat dengan meninggalnya Khadijah, Istri Rasulullah dan Abu Thalib pamandanya. Padahal dua orang itulah yang menjadi tulang punggung peerjuangan Rasulullah selama ini.
Khadijah adalah seorang istri Rasulullah yang setia mendampingi dan membela Rasulullah diasaat yang paling sulit sekalipun. Dia tidak segan-segan mengeluarkan harta bendanya untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin. Dia membela mati-matian ketika Rasulullah mendapat teror dari kaum kafir Quraisy.
Demikian pula Abu Thalib yang memiliki wibawa yang besar di mata kaum Quraisy, walaupun ia tidak mau masuk islam tetapi ia sangat sayang kepada Rasulullah dan membela Rasulullah dari penganiayaan kaum kafir Quraisy. Sehingga orang-orang kafir Quraisy. Berhitung seribu kali sebelum bertindak lebih jauh terhadap Rasulullah.
Kini keduanya telah tiada. Dan orang kafir Quraisy merasa mendapat angin segar untuk menghalang-halangi dakwah beliau. Mereka tidak segan-segan lagi untuk melakukan penganiayaan dan siksaan terhadap Rasulullah dan para pengikutnya.
Rasulullah begitu sedih terhadap cobaan ini. Apalagi disaat-saat terakhir Abu Thalib tetap tidak mau masuk islam.
Karena kehilangan kedua orang terkasihnya, maka tahun tersebut disebut dengan “Amul Huzni” atau tahun duka cita.

DAKWAH KE THAIF
Karena masyarakat Mekkah tidak banyak yang mau menerima ajaran agama islam, maka Rasulullah memutuskan pergi ke Yhaif untuk berdakwah kepada orang-orang Bani Tsaqif. Setibanya di Thaif, beliau langsung menuju para pembesar yang berkuasa di Thaif. Beliau bicara tentang Islam dan menngajak mereka beriman kepada Allah.
Namun sayang, mereka menolaknya secara mentah-mentah, bahkan menjawabnya dengan kasar sekali. Tidak hanya itu mereka kemudian melempari Rasulullah dan para sahabat dengan batu dan kotoran binatang. Zaid bin Haritsah yang turut serta dalam misi itu juga menderita luka-luka akibat lemparan batu penduduk Thaif ketika ia berusaha untuk melindungi keselamatan Rasulullah. Rasulullah pun tidak ketinggalan dan menderita luka-luka juga.

ISRA’ MI’RAJ
Setelah gagal mengajak penduduk Thaif untuk beriman kepada Allah, maka beliau kembal;I ke kkota Mekkah. Namun cobaan semakin berat. Ancaman disana sini terus mengintai dan siap beraksi.
Pada saat demikian, terjadilah peristiwa besar di satu malam yang terkenal dengan sebutan Isra’ Mi’raj.
Yaitu perjalanan Rasulullah pada malam hari dari Masjidil Haram di Mekkah menuju ke Masjiddil Aqsha di Palestina dan dilanjutkan ke Sidhrathul Muntaha menembus langit ke tujuh menghadap Allah.
Perjalanan itu sendiri terjadi dalam satu malam yaitu pada malam 27 Rajab tahun 11 setelah beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul.
Perjalanan ini untuk memenuhi panggilan Allah berupa Shalat lima waktu.
Dalam perjalanan ini beliau melihat berbagai peristiwa dan pemandangan yang dapat dijadikan pelajaran dan I’tibar dalam kehidupan.
Hikmah lain yang terkandunng dalam peristiwa Isra’ Mi’raj adalah untuk menghibur hati Rasulullah yang gundah setelah kematian Khadijah dan pamanda Abu Thalib sekaligus untuk menambah keyakinan beliau dalam menjalankan misi dakwah menyebarkan ajaran tauhid ke tengah-tengah ummat manusia yang sarat dengan cobaan dan rintangan. Dengan semakin bertambah kuatnya keyakinan Rasulullah diharapkan akan tabah dalam menghadapi segala ujian dan siksaan yang berasal dari orang-orang kafir.
Sedangkan bagi umat islam sendiri peristiwa Isra’ Mi’raj juga merupakan ujian kekuatan iman mereka. Mereka bisa bertambah yakin dan percaya akan kebenaran risalah yang dibawa Rasulullah, sekaligus bisa juga mereka ingkar dan tidak mempercayai Rasulullah lagi karena menganggap peirstiwa isra’ Mi’raj adalah kejadian yang mengada-ada dan tidak masuk akal.

PENDUDUK YATSRIB (MADINAH) MASUK ISLAM
Pada musim haji datanglah kabilah dari kalangan berbagai penjuru kota Mekkah. Diantara mereka datang pula jamaah orang Kharajj dari Yatsrib (Madinah). Sebagaimana biasa pada musim haji Rasulullah menyampaikan dakwahnya. Orang-orang Yatsrib yang sudah memahami isi kitab Taurat dari bangsa Yahudi telah mengetahui akan datangnya Nabi akhir Dzaman yang bernama Ahmad atau Muhammad. Sebab itulah ketika Rasulullah menyampaikan dakwahnya mereka langsung menerimanya.
Setelah mereka pulang ke yatsrib, mereka menyampaikan hal itu kepada Saudara-saudara dan kerabatnya bahwa Nabi yang dijanjikan itu sudah datang di negeri Mekkah.
Demikianlah setiap musim haji datang makin banyak pula orang-orang Yatsrib yang masuk islam dan bersumpah setia akan membela Rasulullah dan Agama Islam. Dengan demikian sudah banyak sekali orang-orang Yatsrib yang memeluk agama islam.

HIJRAH KE YATSRIB (MADINAH)
Mekkah dirasakan oleh Rasulullah sudah tidak aman dan nyaman lagi baginya dan para pengikutnya untuk meneruskan dakwah. Sementaraorang-orang Yatsrib setiap hati makin banyak yang masuk islam dan merindukan kedatangan Rasulullah di kota mereka.
Maka kemudian Rasulullah memerintahkan para pengikutnya untuk pindah ke Yatsrib. Berangkatlah para pengikut Rasulullah ke Yatsrib, mereka ikhlas meninggalkan harta benda dan rumah-rumah mereka demi memenuhi perintah Rasulullah.
Sedangkan Abu Bakar dan Rasulullah akan berangkat menyusul mereka dibelakang hari.
Kabar tentang hijrahnya kaum muslimin segera tercium oleh kaum kafir Quraisy. Mereka sepakat untuk membunuh Rasulullah. Namun rencana mereka gagal . allah melindungi Rasul-Nya. Setelah melalui berbagai rintangan, akhirnya Rasulullah sampai di kota Quba’. Masjid inilah yang pertama didirikan oleh ummat islam.
Setelah empat hari beristirahat di Quba’ beliau meneruskan perjalanan ke Yatsrib. Setibanya beliau disana disambut dengan suka cita oleh penduduk Yatsrib yang sudah lama merindukan kedatangan beliau.

FATHU MAKKAH, TONGGAK KEMENANGAN UMMAT ISLAM
Ternyata dari Yatsrib inilah Rasulullah kemudian dapat menyusun kekuatan dan barisan. Beliau dapat membina ummat dengan sempurna. Kemudian nama Yatsrib dirubah menjadi Madinatun Nabawy atau terkenal dengan sebutan Madinah saja.
Di Madinah ini beliau membentuk angkatan perang dan mengatur strategi peperangan.
Sejarah kemudian mencatat dengan tinta emas, bahwa Muhammad bukan hanya seorang Nabi dan Rasul semata melainkan lebih dari itu, Muhammad adalah seorang Kepala Negara, seorang ahli tata Negara, panglima perang yang tangguh dan seorang ayah yang dapat menjadi tauladan bagi putra-putrinya.
Sesudah terjadi perang baddar, perang uhud, perang tabuk, perang mu’tah, perang Khibar, perang Ghatafan, perang Ahzab/ Khandaq, perang Hunain dan berbagai peperangan lainnya, akhirnya Mekkah pun jatuh kedalam kekuasaan beliau bersama kaum muslimin.
Dengan jatuhnya kota Mekkah maka segera berakhir pulalah tugas kenabian beliau selama kurang lebih dua puluh tiga tahun, 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah.
Pada saat haji Wada’ yakni haji perpisahan dengan Rasulullah, beliau menerima wahyu terakhir yang menandai kesempurnaan islam yakni surat Al-Maidah ayat 3 yang artinya :
“Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku padamu dan Aku rela Islam menjadi Agamamu.”
Sesudah melaksanakan haji Wada’, pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal hari Senin tahun 11 Hijriyah beliau menghadap Allah pada usia 63 tahun bertepatan dengan tanggal 8 Juni 632 Masehi.
Beliau di makamkan di Madinah. Hingga kini makam beliau selalu ramai dikunjungi oleh jutaan kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia ketika mereka melaksanakan ibadah haji. Beliau tidak meninggalkan warisan berwujud materi, tetapi beliau meninggalkan dua perkara yakni Al-Qur’an dan Sunnahnya. Siapapun yang berpegang teguh pada keduanya, niscaya ia tidak akan tersesat buat selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar