Nabi Nuh adalah Nabi keempat setelah Nabi Adam as. Beliau adalah putra Lamik bin Matusyalih bin Ukhnuk (Idris) bin Yarid bin Mihlai bin Qinan bin Anusy bin Syits bin Adam as.
AJAKAN NABI NUH KEPADA KAUMNYA
Nabi Nuh menerima wahyu kenabian tatkala dalam masa kekosongan diantara dua Rasul. Dalam masa kekosongan itu, manusia secara berangsur-angsur melupakan ajaran agama Allah dan kembali menjadi syirik, meningggalkan kebajikan, melakukan kemungkaran dan kemaksyiatan dibawah anjuran iblis. Nabi Nuh diutus oleh Allah di daerah Armenia yakni ketengah-tengah masyarakat yang sedang menyembah berhala, tepatnya. Yaitu patung-patung yang dibuat oleh mereka sendiri. Menurut mereka berhala itu mempunyai kekuatan ghaib yang diatas kemampuan manusia. Dan mereka menamakannya sesuai dengan kemauan mereka sendiri. Kadang-kadang mereka menamakannya “Wadd” dan “Suwa”, terkadang juga mereka menamakannya “Yaghust”,”Ya’ud” dan “Nasr”. (QS. Nuh : 23).
Nabi Nuh mengajak kaumnya untuk berfikir. Ia mengjak kaumnya melihat alam semesta ciptaan Allah. Langit dengan bulan, bintang dengan mataharinya. Bumi dengan kekayaan yang diatas dan dibawahnya, berupa hewan, tumbuhan dan air yang mengalir. Pergantian siang dan malam. Semua itu menjadi bukti dan tanda kebesaran Allah.
Kemudian Nabi Nuh juga memberi kabar bahwa akan ada ganjaran berupa surga dengan ssegala kenikmatannya bagi mereka yang beramal saleh dan neraka dengan segala kepedihan siksanya yang disediakan bagi mereka yang membangkang dan ingkar terhadap perintah dan ajaran Allah serta bergelimang dalam lumpur dosa.
Dakwah Nabi Nuh dilakukan dengan penuh semangat dan kegigihan, baik siang maupun malam, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Beliau termasuk orang yang cerdas, fasih berbicara, tajam pemikirannya, pandai berdiskusi, bersifat sabar dan tenang. Nabi Nuh diangkat menjadi Nabi dan Rasul tatkala beliau berusia 450 dan wafat pada usia 950 tahun. Dengan demikian Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya selama lima abad atau 500 tahun meski demikian, pengikut Nabi Nuh hanya sedikit yakni tidak lebih dari seratus orang.
Umat Nabi Nuh banyak yang ingkar. Jika Nabi Nuh mengajak mereka beriman dan beribadah kepada Allah umatnya selalu menentang dan mengejeknya.
Para pengikut Nabi Nuh kebanyakan adalah para fakir miskin dan golongan ekonomi lemah. Para bangsawan, orang-orang kaya dan terpandang dimata masyarakat kebanyakan menentangnya dan memusuhinya.
Pada suatu ketika orang-orang kafir hendak menipu Nabi Nuh. Mereka mengatakan bahwa mereka mau mengikuti ajaran Nabi Nuh jika Nabi Nuh bersedia mengusir para pengikutnya yang terdiri dari fakir miskin dan golongan ekonomi lemah. Tetapi akhirnya Nabi Nuh menolak permintaan mereka.
Kecerdasan dan kefasihan Nabi Nuh mengalahkan segala hujjah orang kafir sehingga orang-orang kafir itu semakin jengkel dan bahkan menetangnya Nabi Nuh.
Mereka berkata : “Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah membantah kami dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkalah kepada kami adzab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang yang benar”.
Nabi Nuh menjawab : “Hanya Allah yang mendatangkan adzab itu kepada kalian jika Dia menghendaki dan tidak sekali-kali tidak akan dapat melarikan diri. Tidaklah bermanfaat kalian. Dia adalah Tuhan kalian. Dan kepan-Nyalah kamu dikembalikan”.
Dengan keterlaluannya kaum Nabi Nuh itu mengingkari ajaran Allah. Mereka bahkan mengejek dan menhina Nabi Nuh sebagai orang yang bodoh, dungu dan gila.
Namun Nabi Nuh sebagai utusan Allah tetap melaksanakan tugas keRasulannya untuk menyampaikan dakwah. Dan orang-orang kafir semakin keras menentangnya bahkan mereka malah mengancamnya.
“Sungguh jika kamu tidak mau berhenti berdakwah”, kata mereka. “Maka kami akan merajammu beramai-ramai”. (QS. Asy- Syur’ara : 105-122).
NABI NUH BERPUTUS ASA DARI KAUMNYA
Setelah dakwah yang disampaikan mengalami jalan buntu dan jumlah kaumnya tidak lagi bertambah maka Nabi Nuh mengadukannya kepada Allah.
Nabi Nuh berdo’a : “Ya Tuhanku, janganlah engkau memberikan satu orang pun dari orang-orang kafir itu tinggal diatas permukaan bumi. Sesungguhnya jika engaku membiarkan mereka tinggal niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan anak ,kecuali anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir”. (QS. Nuh 24).
Allah mengabulkan do’a Nabi Nuh. Allah beri petunjuk agar Nabi Nuh membuat kapal sangat besar. Dengan kapal itu Nabi Nuh dan kaumnya yang beriman akan selamat. Semuanya binasa (QS. Al-A’raaf 59-64 ; Al-Ankabut : 14-15).
Selagi Nabi Nuh dan para pengikutnya membuat kapal diatas bukit , kaumnya yang kafir mengolok-olok dan mengejeknya.
“Lihat Nuh semakin gila saja, masak dimusim panas begini dia membuat kapal. Di atas bukit lagi. Sungguh dia betul-betul miring otaknya.
Diantara mereka bahkan ada yang berani membuang kotoran di dalam kapal yang belum selesai di buat itu. Tentu saja mereka lakukan hal itu ketika Nabi Nuh dan para pengikutnya tidak ada di tempat tersebut. Akibatnya Allah membalas perbuatan mereka dan menjadikan orang yang membuang kotoran di dalam kapal menjadi sakit perut dan tak seorangpun yang mampu mengobatinya. Dengan merenge-renge mereka dating kepada Nabi Nuh untuk mengobatinya. Nabi Nuh hanya menyuruh mereka membersihkan kotoran mereka yang ada di atas kapal tersebut. Dan sakit perut mereka kemudian sembuh.
BANJIR BESAR MEMBINASAKAN ORANG-ORANG KAFIR
Setelah kapal selesai dibuat, sesuai dengan wahyu Allah, NAbi Nuh mengajak kaumnya memasuki kapal. Nabi Nuh juga membawa serta berbagai pasang binatang dalam kapal tersebut.
Tidak berapa lama setelah kaum Nabi Nuh dan berbagai pasang binatang memasuki kapal yang besar itu, langit yang tadinya cerah, tiba-tiba berawan. Mula-mula awan yang datang hanya tipis. Tetapi kemudian makin lama makin tebal dan akhirnya jadi mendung yang hitam pekat. Angin pun mulai berhembus. Bersamaan dengan turunya hujan lebat, maka air dalam bumi pun memancar dengan derasnya ke permukaan.
Hujan turun makin lebat. Belum pernah terjadi hujan selebat itu. Rumah-rumah muali terendam air.Ditambah lagi dengan hembusan angin yang kencang, membadai semakin membuat orang-orang kafir panik dan kebingungan.
Dari kejauhan, Nabi Nuh salah seorang putra kesayangannya Kan’an sedang berlari-lari menuju puncak bukit untuk mencari perlindungan dari air bah yang kian meninggi. Nabi Nuh memanggil-manggil Kan’an.
Hai anakku, kemarilah. Naiklah kedalam kapalku maka kau akan selamat!”.
Tetapi Kan’an dengan sombongnya terus berlari. Ia tak menghiraukan pangglian ayahandanya. Ia mengira banjir itu hanya bencana alam biasa yang akan segera reda, maka ia terus saja berlari mendaki gunung. Memang Kan’an addalah putra Nabi Nuh yang tidak mau mengikut ajaran Ayahandanya dan lebih hidup bersama-sama kafir, karena itu ia tidak mau menumpang di kapal ayahandanya. Nabi Nuh merasa sedih sekali melihat putranya yang tidak mau mengikuti ajarannya. Kemudian beliau berdo’a kepada Allah agar menyelamatkannya (QS. Nuh : 25-28).
Tetapi Allah berkehendak lain. Allah menolak do’a Nabi Nuh sebab walaupun Kan’an putra Nabi Nuh sendiri, tetapi Kan’an tidak mau beriman.
Berdasarkan suatu riwayat kapal Nabi Nuh dan para pengikutnya berlayar selama 40 hari dan berlabuhh di bukit Al-Judi. Sesudah itu, banjir pun reda dan surut dengan perlahan. Orang-orang kafir dan penentang Nabi Nuh semua binasa tak tersisa. (QS. Hud : 37-48).
Dengan demikian hanya orang-orang beriman dan para pengikut Nabi Nuh yang hidup menempati bumi sebagai penghuni.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar